Selasa, 26 November 2019

Penerapan ERP, SCM, dan CRM pada PT. Telkom tbk

NAMA : AIS FAJAR DHIAUL HAQ
NPM    : 1B118026
KONSEP SISTEM INFORMASI LANJUT

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 
Sejalan dengan akan diterapkan era pasar bebas regional baik Asean Free Trade Area (AFTA) tahun 2003, Asia Pasific Economic Community (APEC) tahun 2010, maupun World Trade Organization (WTO) tahun 2020, maka seluruh sumberdaya bisnis yang ada di Indonesia harus dapat mempersiapkan diri agar dapat berkompetisi secara bebas dan sehat. Pada saat era pasar bebas diterapkan, akan banyak hal terjadi dimana tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Nelayan Muncar dapat memperoleh kredit pemilikan kapal dari Bank of Thailand, tukang cukur professional dari Malaysia, maupun produk hasil pertanian dari Malaysia, hal-hal tersebut menjadi tantangan bagi kita untuk meningkatkan produk dan layanan agar mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.  Proteksi bisnis tidak akan diperoleh secara langsung dari pemerintah, setiap pelaku bisnis dituntut agar dapat bersaing dan berkompetisi secara sehat dengan competitor dari negara lain untuk bersaing memperebutkan pasar regional. Bilamana pelaku bisnis domestic tidak memiliki kemampuan untuk berkompetisi secara sehat maka potensi pasar yang ada akan dengan mudah diambil alih oleh competitor dari negara lain. Agar dapat berkompetisi secara sehat maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dan menjawab tantangan yang dihadapi. Peningkatan mutu produk dan layanan akan menjadi focus utama guna meningkatkan kualitas kepuasan konsumen sebagai tolok ukur pencapaian keberhasilan bisnis. Selain itu peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan perusahaan akan meningkatkan laba disisi perusahaan serta pengurangan biaya yang akan membawa manfaat pada harga jual produk dan jasa yang lebih kompetitif.

Untuk menanggapi masalah tersebut maka perusahaan perlu memakai sebuah sistem agar berjalan dengan cepat, efisien, dan efektif. Sistem tersebut antara lain : 
1.  CRM (Customer Relationship Management) Merupakan metodologi, software, dan biasanya dibekali kapabilitas Internet yang membantu perusahaan dalam menjaga hubungan dengan pelanggan secara terorganisasi. Misalnya, sebuah perusahaan membangun database pelanggannya dengan mendetail sehingga manajemen, divisi penjualan, dan divisi pelayanan mampu melayani apa yang sebenarnya diinginkan pelangggan. Seperti produk dan layanan yang ditawarkan, menginventariskan kebutuhan setiap pelanggan, mengetahui produk lain yang biasa dibeli oleh pelanggan dan lainnya. 
2.  SCM (Supply Chain Management) Adalah kontrol terhadap material, informasi, dan keuangan dalam menangani proses perpindahan produk mulai dari supplier, manufaktur, distributor, pengecer hingga ke konsumen. Tujuan utama dari SCM adalah mengurangi inventori/stok, tetapi dengan asumsi bahwa produk tersedia jika diperlukan. 
3.  ERP (Enterprise Resource Planning)  Merupakan satu sistem besar dari beragam aktivitas yang didukung aplikasi software multimodul yang membantu pemanufaktur atau perusahaan dalam memanajemen bagian penting dari bisnisnya. Dalam hal ini, termasuk perencanaan produk, pembelian, pengaturan stok produk, interaksi dengan supplier, pelayanan pelanggan, dan penelusuran pemesanan produk. ERP juga bisa meliputi modul aplikasi keuangan dan sumber daya manusia (SDM). Biasanya, sistem ERP menggunakan atau terintegrasi dengan sistem relasional database.  
B. Sekilas PT. Telkom tbk   
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. TELKOM (yang selanjutnya disebut juga Perseroan atau

Perusahaan) menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data & internet dan network & interkoneksi baik secara langsung maupun melalui perusahaan asosiasi.  Sampai dengan 31 Desember 2007 jumlah pelanggan TELKOM sebanyak 63,0 juta pelanggan yang terdiri dari pelanggan telepon tidak bergerak kabel sejumlah 8,7 juta, pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel sejumlah 6,4 juta pelanggan dan 47,9 juta pelanggan jasa telepon bergerak. Pertumbuhan jumlah pelanggan TELKOM di tahun 2007 sebanyak 29,9%.  Sejalan dengan visi TELKOM untuk menjadi perusahaan InfoComm terkemuka di kawasan regional serta mewujudkan TELKOM Goal 3010 maka berbagai upaya telah dilakukan TELKOM untuk tetap unggul dan leading pada seluruh produk dan layanan.  Hasil upaya tersebut tercermin dari market share produk dan layanan yang unggul di antara para pemain telekomunikasi. Selama tahun 2007 TELKOM telah menerima beberapa penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya : Indonesia's Best for Shareholders' Rights and Equitable Treatment dari majalah ASIAMONEY, Top Brand Award 2000-2007 dari Frontier Consulting Group, Zero Accident Award dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, The Best CDMA Provider, Call Center Award 2007, IMAC Award 2007 dari Frontier Consulting Group, 2007 Marketing Award, Anugerah Business Review 2007, Juara Umum Anugerah Media Humas Nasional 2007, ICSA 2007, Best Social Reporting ISRA 2007, Fabulous 50, Best IT Project dari SAP, Value Creator Award 2007 dan Investor Award 2007.  Saham TELKOM per 31 Desember 2007 dimiliki oleh pemerintah Indonesia (51,82%) dan pemegang saham publik (48,18%). Saham TELKOM tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), New York (NYSE), London Stock Exchange (LSE) dan Tokyo Stock Exchange, tanpa tercatat. Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2007 meningkat 0,5% menjadi Rp 10.150 dari Rp 10.100 pada periode yang sama tahun 2006.  Nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 204.624 miliar atau 10,3 % dari kapitalisasi pasar BEI Dengan pencapaian dan pengakuan yang diperoleh TELKOM, penguasaan pasar untuk setiap portofolio

bisnisnya, kuatnya kinerja keuangan, serta potensi pertumbuhannya di masa mendatang, saat ini TELKOM menjadi model korporasi terbaik Indonesia.  
C. Tujuan  
Manfaat apa yang sebenarnya ingin dicapai dengan pemanfaatan teknologi informasi? Tujuan utama yang ingin dicapai melalui pemanfaatan teknologi dan sistem informasi diantaranya adalah 
•  Peningkatan kualitas produk dan layanan 
•  Mempercepat dan mengefektifkan proses bisnis perusahaan 
•  Meningkatkan efisiensi 
•  Meningkatkan produktifitas dan kualitas SDM.  
Dalam arti sebenarnya sasaran yang ingin dicapai melalui implementasi teknologi dan Sistem Informasi adalah guna menjawab tantangan yang dihadapi oleh perusahaan terutama dalam rangka menghadapi era pasar bebas yaitu : 
•  Kepuasan konsumen 
•  Good Corporate Governance 
•  Peningkatan Bisnis 
•  Optimalisasi Proses Bisnis 
•  Kemitraan 
•  SDM  
Guna mencapai sasaran yang ingin dituju, dibutuhkan suatu sistem informasi yang memenuhi criteria-kriteria sebagaimana dijelaskan sebagai berikut : 
•  Reliability, Availability 
•  Transparancy, Accuracy 
•  Scalability 
•  Optimalisasi 
•  Reusability 
•  Flexibility, Interoperability 
•  Integrasi 
•  Field Proven 
•  Best Practise 
•  Knowledge Enhancement 
•  Competency Match  
Seluruh criteria sebagaimana dijelaskan diatas akan menjadi tolok ukur penilaian apakah suatu aplikasi dapat memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan oleh pihak manajemen perusahaan.  D. Identifikasi Bisnis Telekomunikasi Di Pasar Bebas Bisnis telekomunikasi adalah merupakan salah satu bisnis yang memiliki nilai profitabilitas yang tinggi. Pelaku bisnis telekomunikasi di pasar asia adalah merupakan korporasi yang termasuk dalam kelompok bisnis dengan prestige yang tinggi. Singapore Telecom dan Korean Telecom merupakan contoh pelaku bisnis di bidang telekomunikasi yang telah berhasil untuk bermain di pasar bebas regional. Selain itu dengan adanya perkembangan teknologi dan konvergensi media komunikasi, maka percaturan bisnis telekomunikasi berkembang menjadi lebih jauh bukan hanya sekedar layanan Plain Old Telephone System (POTS) melainkan telah beralih menjadi layanan berbasis Teknologi Informasi terutama bagi pengembangan IP Based Telephony, Asynchronous Digital Subscriber Line (ADSL) dan Video Digital Subscriber Line (VDSL) sebagai tulang punggung komunikasi berpita lebar (Broadband). Para pelaku bisnis di bidang telekomunikasi tersebut akan berusaha untuk membuka pasar baru mengingat potensi pasar yang telah mencapai titik jenuh (Saturated) di negara masing-masing. Indonesia dengan 220 juta penduduk dan China dengan lebih dari 1 milyar penduduk memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi suatu pasar produktif dan menjadi sumber penerimaan perusahaan yang signifikan. Hal ini akan menjadi ancaman bagi penyedia layanan domestic dalam hal ini PT Telekomunikasi Indonesia. Pembelian saham pemerintah oleh Singapore Telecomunication Technology (STT) dalam rangka divestasi PT Indonesia Satelite (Indosat) adalah merupakan salah satu contoh nyata dari rencana pelaku pasar asing untuk meraih pasar dalam negeri di Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan tidak dapat mengatur masuknya pelaku bisnis asing melalui akusisi perusahaan swasta nasional dalam bidang telekomunikasi agar dapat berkiprah dalam bisnis telekomunikasi di Indonesia.  Selain itu dengan perkembangan teknologi saat ini sarana catu daya listrik dapat menjadi media telekomunikasi baru dengan menggunakan Power Line Communication (PLC). Hal ini telah menimbulkan potensi kompetisi baru yang mungkin akan membawa pengaruh di masa mendatang terutama pada saat teknologi alternative tersebut telah mencapai tahap yang matang (Mature). Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mulai mencoba untuk mengembangkan teknologi PLC melalui anak perusahannya Commnet Plus. Perkembangan teknologi nirkabel (Wireless) serta berubahnya budaya masyarakat yang semakin bersifat dinamis (mobile) telah meningkatkan penggunaan telephone genggam (Mobile phone) hingga menyamai pemakai telephone tetap (Fixed Line) dan akan terus berkembang dimasa mendatang. Bisnis telekomunikasi nirkabel telah berubah dari layanan komunikasi alternative menjadi layanan komunikasi utama dan berkembang tidak saja untuk layanan suara (Voice) tetapi juga menjadi data (SMS, EMS, MMS, WAP dan GPRS). Hal lain yang patut menjadi bahan pertimbangan adalah meningkatnya pemahaman konsumen atas kualitas layanan yang diberikan. Tuntutan konsumen atas peningkatan layanan mulai dari pendaftaraan pelanggan baru, instalasi, pemanfataan sehari-hari hingga pemeliharaan dan penanganan gangguan, telah menjadi tolok ukur penilaian kepuasan pelanggan atas layanan yang diberikan. Sejalan dengan hal itu kesadaran masyarakat baik pengguna pribadi maupun korporasi akan Service Level Guarantee telah menuntut penyedia jasa telekomunikasi untuk bertindak lebih professional dan proaktif terhadap kebutuhan konsumen. Spektrum perkembangan bisnis dibidang telekomunikasi sebagaimana dijelaskan diatas harus menjadi masukan berharga bagi PT Telkom agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan, kualitas produk dan layanan serta efisiensi dan efektifitas manajemen guna meningkatkan nilai kompetisi perusahaan agar dapat bersaing secara sehat dengan competitor lain baik di pasar domestic maupun regional.  E. Tantangan Bisnis Telkomunikasi Di Pasar Bebas Dengan melihat kepada perkembangan bisnis telekomunikasi di pasar bebas regional, maka dapatlah kiranya kita mengidentifikasi tantangan yang harus dihadapi oleh PT Telkom dalam mempertahankan existensinya untuk berkompetisi dipasar bebas. Beberapa tantangan dimaksud diantaranya adalah :
1.  Regulasi pemerintah yang membuka peluang terbukanya pasar dengan hanya melakukan sedikit tindakan proteksi serta beberapa kebijakan yang telah memberikan kesempatan kepada masukanya pemain asing telah meningkatkan kompetisi dalam bisnis telekomunikasi di Indonesia 
2.  Perkembangan teknologi sistem informasi telah mengakibatkan konvergensi media komunikasi dari yang hanya berbasis suara menjadi data dan memuat baik suara, gambar maupun data lainnya 
3.  Peningkatan tuntutan dari pelanggan atas kualitas layanan telah meningkatkan nilai kompetisi dari pelaku bisnis telekomunikasi. 
Tuntutan peningkatan layanan oleh pelanggan dalam bentuk : 
•  Service 
•  Produk 
•  Pemenuhan Kebutuhan 
•  Metode Kerja 
•  Informasi 
4.  Model pengelolaan perusahaan yang birokratis akan menurunkan kinerja manajemen secara keseluruhan, tuntutan akan profesionalisme dalam pekerjaan haruslah dijadikan sebagai tantangan bagi seluruh karyawan Telkom guna mendukung peningkatan kinerja manajemen perusahaan. 
5.  Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat juga telah menjadi tantangan tersendiri yang harus dapat dijawab oleh PT Telkom agar senantiasa dapat berkompetisi dengan pelaku bisnis telekomunikasi lainnya 6. Peningkatan kebutuhan akan jaringan komunikasi data oleh pihak swasta dan pemerintahan dalam pengembangan e-business dan e-government telah menambah tantangan yanga harus dijawab oleh PT Telkom agar dapat senantiasa memimpin di depan sebagai penyedia layanan telekomunikasi berskala internasional.    
Seluruh tantangan sebagaimana dijelaskan diatas haruslah dijawab dengan sikap arif dan bijaksana serta dengan langkah-langkah proaktif secara terencana dan terarah guna memanfaatkan seluruh sumberdaya yang tersedia guna menjawab setiap tantangan yang akan dihadapi di pasar bebas regional.
F. Peranan Teknologi Informasi Bagi Bisnis Telekomunikasi   
Bisnis dibidang telekomunikasi memiliki kaitan yang sangat erat dengan pemanfaatan teknologi informasi. Tidak saja berperan sebagai media operasi telekomunikasi tetapi juga menyangkut fungsi sebagai pendukung manajemen. Pelaku bisnis telekomunikasi akan sangat mengenal peranan teknologi informasi dalam rangka pengelolaan jaringan, sistem tagihan, persediaan, dan beragam aplikasi lain yang terkait dengan kegiatan operasi serta sistem keuangan, personalia dan beragam aplikasi lain yang terkait dengan kegiatan manajemen.   Sejalan dengan perkembangan sistem informasi yang berkaitan dengan manajemen, pada saat ini telah berkembang aplikasi bisnis yang terkait dengan manajemen perusahaan sebagai pengembangan dari sistem informasi manajemen sebagaimana telah dikenal sebelumnya. Aplikasi bisnis tersebut telah menjadi tren manajemen saat ini dan tidak saja dimanfaatkan oleh bisnis telekomunikasi melainkan juga oleh seluruh pelaku bisnis di dunia.   
Aplikasi aplikasi tersebut memiliki peran yang berbeda dengan dengan sasaran yang berbeda pula. Aplikasi sebagaimana dimaksud adalah :  
1. Enterprise Resource Planning 
Enterprise Resources Planning (ERP) adalah merupakan aplikasi terpadu yang memberikan dukungan sistem informasi kepada manajemen dalam hal pengelolaan sumberdaya perusahaan yaitu : 
•  Keuangan 
•  Sumberdaya Manusia 
•  Logistik  
Ketiga sumberdaya tersebut akan membentuk sistem informasi back office bagi perusahaan dalam rangka mendukung kegiatan bisnis utama. Adapun definsi ERP adalah “ Suatu solusi terpadu yang melibatkan pengelolaan sumberdaya organisasi baik Manusia, Uang, Material dan Manajemen dengan memanfaatkan basis data yang terintegrasi sehingga hanya dibutuhkan satu kali input data untuk setiap transaksi dan akan berpengaruh dengan fungsi lain didalam modul sistem informasi”
ERP telah secara luas dimanfaatkan, dengan beragam solusi yang dibangun dan ditawarkan oleh vendor sistem informasi, hampir 70% perusahaan yang tergabung dalam fortune 500 memanfaatkan ERP sebagai tulang punggung sistem informasi mereka.  
2. Supply Chain Management 
Supply Chain Management (SCM) adalah merupakan aplikasi terpadu yang memberikan dukungan sistem informasi kepada manajemen dalam hal pengadaan barang dan jasa bagi perusahaan sekaligus mengelola hubungan diantara mitra untuk menjaga tingkat kesediaan produk dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan secara optimal. SCM memiliki keterkaitan secara langsung dengan ERP terutama dari sisi Logistik Perusahaan, pembelian dan hutang serta manajemen mitra. Adapun definsi SCM adalah “ Suatu solusi terpadu yang melibatkan pengelolaan sumberdaya organisasi atas kebutuhan barang dan jasa dan juga meliputi manajemen para mitra dengan memanfaatkan basis data yang terintegrasi dan bertujuan untuk menjamin terpenuhinya tingkat kebutuhan material suatu organisasi”  
3. Customer Relationship Management 
Customer Relationship Management (CRM) adalah merupakan aplikasi terpadu memberikan dukungan sistem informasi kepada manajemen dalam hal hubungan kepada pelanggan dengan memiliki keterkaitan yang erat secara langsung dengan ERP terutama dari sisi penjualan, serta piutang. CRM lebih berfokus kepada upaya untuk memahami kebutuhan pelanggan agar dapat diberikan layanan secara cepat dan tepat. Adapun definsi CRM adalah “ Suatu solusi terpadu yang melibatkan pengelolaan sumberdaya organisasi meliputi manajemen para pelanggan dengan memanfaatkan basis data yang terintegrasi dan bertujuan untuk menjamin terpenuhinya tingkat kebutuhan pelanggan akan barang dan jasa serta meningkatkan kualitas hubungan antara organisasi dengan pelanggan”  Ketiga aplikasi sebagaimana dijelaskan diatas akan menjadi tulang punggung sistem informasi manajemen perusahaan yang teritegrasi dengan kegiatan operasional perusahaan seperti Billing system, Network Maintenance System dan beragam aplikasi operasional lainnya. Aplikasi terakhir selain keempat aplikasi bisnis
sebagaimana dimaksud diatas adalah Decision Support Sistem (DSS), sebagai muara dari keseluruh sistem yang bertujuan untuk memberikan dukungan sistem informasi kepada manajemen perusahaan dalam rangka pengambilan keputusan. DSS akan menjadi aplikasi terminasi dari alur informasi yang terjadi mulai dari transaksi hingga pengambilan keputusan ditingkat manajemen puncak perusahaan. Berdasarkan kepada pemikiran diatas jelas terlihat peranan aplikasi bisnis yang sedemikian penting guna mendukung pengambilan keputusan ditingkat manajemen. Selain aplikasi sebagaimana dijelaskan diatas dan sejalan dengan perkembangan internet, aplikasi bisnis perusahaan berkembang dengan memanfaatkan sumberdaya informasi yang tersedia di internet dengan membangun aplikasi yang dikenal dengan istilah e-Commerce dan e-Business. Perkembangan aplikasi e-business telah menghasilkan aplikasi-aplikasi baru yang secara intensif memanfaatkan sumberdaya internet sebagai media bagi perusahaan untuk melaksanakan transaksi bisnis beberapa aplikasi diantaranya e-Procurement, e-Payment, e-Document dan aplikasi pendukung seperti halnya Public Key Infrastruktur telah menjadikan internet sebagai suatu pasar baru yang hampir tanpa batas

BAB II 
STRATEGI INFORMASI TEKNOLOGI

A.  Strategi Pengembangan IT dalam mendukung Bisnis Telekomunikasi 
Dalam mengembangkan teknologi dan sistem informasi guna mendukung bisnis telekomunikasi, dibutuhkan strategi terbaik guna mengarahkan, merencanakan, mengembangkan dan mengimplementasikan solusi sistem informasi terbaik yang diharapkan dapat mendukung manajemen perusahaan dengan hasil yang memuaskan. Guna menyusun suatu strategi yang tepat maka perlu dibangun kerangka berfikir secara sistematis untuk memudahkan bagi setiap pihak yang terkait dengan pengembangan sistem informasi agar memiliki kesamaan visi dan gerak langkah dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Teknologi dan sistem Informasi dalam mendukung bisnis telekomunikasi.  
Strategi pengembangan disusun dalam suatu kerangka yang sistematis dengan urutan sebagai berikut : 
1.  Menyusun suatu kerangka konseptual pengembangan sistem informasi 
Di dalam kerangka konseptual akan disusun landasan kerangka pemikiran mengenai pengembangan sistem informasi dan akan meliputi kerangka : 
•  Suprastruktur meliputi Kepemimpinan, Regulasi dan SDM 
•  Infrastruktur 
•  Infostruktur 
•  Arsitektur dan Integrasi Aplikasi 
•  Manajemen Proses Bisnis 
•  Manajemen Sistem Informasi 
•  Unit Pelaksana Teknis 
•  Simpul Integrasi Informasi 
•  E-Business  
Dengan memperhatikan kerangka konsep diatas dapat kita ajukan beberapa pertanyaan mendasar menyangkut beberapa hal : 
•  Apakah komitment dari pimpinan dan apakah regulasi telah mendukung? 
•  Apakah SDM telah dipersiapkan?
•  Apakah infrastruktur telah tersedia? 
•  Apakah Data telah terstruktur? 
•  Apakah Arsitektur Aplikasi telah dimiliki? 
•  Apakah Unit Pelaksana Teknis telah disiapkan? 
•  Apakah Manajemen Sistem informasi telah disusun?  
Seluruh pertanyaan tersebut akan mengarahkan penyusunan kerangka konseptual agar dapat memahami kondisi dan permasalahan yang ada dilapangan.  
2.  Membangun suatu cetak biru sistem informasi
Bilamana kerangka konseptual telah tersusun maka tahapan selanjutnya adalah menyusun cetak biru pengembangan sistem informasi. Cetak biru ini akan memuat penjabaran teknis atas kerangka konseptual dan menjadi acuan teknis utama dalam mengembangkan sistem informasi bagi manajemen perusahaan. Cetak biru akan disusun mengikuti alur kerangka konseptual yang telah disusun sebelumnya.  
3. Menyusun solusi pentahapan 
Tahapan selanjutnya setelah penyusunan Cetak biru adalah menyusun solusi pentahapan dimana disusun langkah-langkah pengembangan yang terdiri atas : 
•  Mapping Kondisi Existing 
•  Penetapan Kebutuhan 
•  Pemilihan Solusi  
•  Penyusunan Rencana Implementasi  
4. Implementasi sistem informasi 
Kegiatan Implementasi akan terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 
•  Pengembangan 
•  Pengujian 
•  Instalasi 
•  Operasi 
•  Pemeliharaan
Keempat tahapan tersebut akan menentukan keberhasilan dalam pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi bagi bisnis perusahaan. Perlu untuk disampaikan bahwa dalam menetapkan strategi implementasi sistem informasi pada manajemen perusahaan, perlu dijadikan bahan pertimbangan hal-hal sebagai berikut : 1.  Manajemen perubahan perlu untuk diterapkan mengingat bahwa penerapan suatu sistem yang baru akan mengubah proses bisnis yang selama ini berjalan. Faktor sumberdaya manusia akan menentukan keberhasilan implementasi sistem informasi 
2.  Fokus utama yang harus dikembangkan terlebih dahulu adalah back office perusahaan, dalam hal ini ERP harus dikembangkan terlebih dahulu dibandingkan SCM dan CRM. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu fakta bahwa muara seluruh transaksi adalah di ERP, khususnya berkaitan dengan masalah keuangan 
3.  Integrasi sistem informasi akan menjadi perhatian yang sangat penting, hal ini guna mencegah pengembangan sistem yang tidak terarah, sendiri-sendiri dan mengakibatkan pulau-pulau informasi yang pada ujungnya akan berakibat kepada kegagalan pengembangan sistem informasi itu sendiri. Pemanfaatan teknologi yang telah ada pada saat ini sekiranya dapat membantu untuk memecahkan persoalan integrasi yang selama ini selalu menjadi momok yang menakutkan.  
Sejalan dengan perkembangan e-commerce dan e-business saat ini maka pemanfaatan sumberdaya internet diharapkan akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk berkompetisi sekaligus meningkatkan efisiensi dan efektifitas menajemen perusahaan. Salah satu aplikasi yang terkait dengan e-business diantaranya adalah aplikasi e-Marketplace. Aplikasi e-Marketplace dengan beragam modul aplikasi yang ada didalamnya termasuk e-Auction, e-Biding, e-Directory, e-Payment dan beragam aplikasi lainnya akan membuka sistem procurement yang selama ini berjalan agar menjadi lebih transparan, cepat dan tepat sasaran. Implementasi e-marketplace diharapkan mampu untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan dalam kegiatan operasi perusahaan dan dapat diperoleh secara cepat, tepat, efektif dan efisien. Penerapan aplikasi e-Marketplace akan menjadi lebih efektif bilamana terintegrasi dengan aplikasi SCM yang dimiliki oleh perusahaan. Dengan penerapan e-marketplace tujuan utama yang ingin dicapai adalah agar Telkom dapat memperoleh barang dan jasa dengan harga yang murah tetapi dengan
jaminan kualitas terbaik dan dilakukan dengan proses pengadaan yang transparan. Dengan harga barang pendukung kegiatan operasi yang murah, diharapkan Telkom dapat meningkatkan sisi kualitas pelayanan atau menurunkan tariff telekomunikasi sebagai manfaat langsung dari penurunan harga pokok produksi jasa telkomunikasi. Aplikasi lain yang dapat dimanfaatkan adalah dengan memanfaatkan CRM untuk membangun hubungan secara online dengan pelanggan dalam bentuk myTelkom web site pribadi pelanggan, e-Complain untuk keluhan pelanggan, e-billing untuk penagihan dan beragam aplikasi lain yang dapat diterapkan disisi CRM dalam konteks sistem informasi bisnis perusahaan. Manfaat yang ingin dirasakan melalui penerapan CRM berbasis online diantaranya adalah adanya kemampuan Telkom untuk dapat memahami kebutuhan setiap pelanggan baik yang bersifat pribadi maupun korporasi sehingga diharapkan akan meningkatkan kualitas pelayanan melalui penetapan prioritas layanan yang berbeda untuk setiap pelanggan.

BAB III 
PENUTUP

Dengan demikian kita dapat melihat kepada nilai strategis yang dimiliki oleh sistem informasi dalam mendukung PT Telkom guna berkompetisi di pasar bebas regional dalam bisnis telekomunikasi. Besar harapan kami agar dapat lah kiranya makalah ini menjadi suatu bahan renungan dan memberikan masukan berharga bagi penerapan teknologi dan sistem informasi di PT Telkom guna menunjang keberhasilan perusahaan dalam bersaing di pasar bebas.  
KESIMPULAN 
Berdasarkan kepada pemaparan diatas tergambarkan nilai strategis yang dimiliki oleh teknologi dan sistem informasi guna mendukung kemampuan PT Telkom agar mampu untuk bersaing dalam pasar yang kompetitif. Focus utama yang patut menjadi perhatian adalah bahwa dengan memanfaatkan teknologi informasi diharapkan : 
1.  Akan meningkatkan kualitas produk dan layanan yang diberikan oleh PT Telkom khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan sarana telekomunikasi baik berupa suara maupun data 
2.  Meningkatkan pemahaman atas kebutuhan konsumen sehingga dapat diperoleh gambaran profil konsumen secara umum agar dapat ditentukan sasaran yang menjadi prioritas dalam pengembangan infrastruktur jaringan dan jenis layanan yang diberikan 
3.  Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja manajemen secara menyeluruh.  
Ketiga hal tersebut mencerminkan peran strategis yang dimiliki oleh teknologi informasi terutama dalam rangka memanfaatkan aplikasi bisnis berupa : 
1.  Enterprise Apllication Planning 
2.  Supply Chain Management 
3.  Customer Relationship Management 
4.  Enterprise Application Integration
Sehingga akan memberikan manfaat guna mencapai tiga hal utama yang menjadi focus utama dalam pengembangan sistem informasi manajemen

BAB IV 
DAFTAR PUSTAKA  

1.  Cahyana Ahmadjayadi Deputi Bidang Jaringan Komunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informasi, Jakarta, 2003 
2.  Materi TOT Technologi Information & Communication oleh Unesco dan Pusnas RI di Yogyakarta 1999 3.  Model Implementasi Protokol OAI dalam IndonesiaDLN dan Hubungannya dengan Digital Library di Luar Negeri oleh Rurie Muharto.
Penerapan ERP, SCM, dan CRM pada PT. Telkom tbk
Kantor Wilayah Jakarta Timur
Pasar Rebo - Jl. Raya Bogor Km 22
Jakarta Timur
Telp 021-8572500
BAB I
PENDAHULUAN
Penerapan ERP, SCM, dan CRM pada PT. Telkom tbk
Kantor Wilayah Jakarta Timur
Pasar Rebo - Jl. Raya Bogor Km 22
Jakarta Timur
Telp 021-8572500
BAB I
PENDAHULUAN
Penerapan ERP, SCM, dan CRM pada PT. Telkom tbk
Kantor Wilayah Jakarta Timur
Pasar Rebo - Jl. Raya Bogor Km 22
Jakarta Timur
Telp 021-8572500
BAB I
PENDAHULUAN

Senin, 29 April 2019

cara membuat GIF dengan menggunakan PhotoshopCS6

Fitur  Photoshop dibanding program lainnya adalah Photoshop menyediakan fitur untuk membuat gambar format .gif atau istilah lainnya gambar animasi dengan cara mudah  dan hasilnya tidak kalah menarik dengan program-program pengolah penghasil gambar animasi lainnya.

Berikut contoh hasil gambar animasi format .gif sederhana yang dibuat dengan program Adobe Photoshop :

Link DISINI

  • Langkah Pertama untuk membuat animasi buka aplikasi photoshop. Yang Saya pakai adalah Photoshop CS6, dan buat lembar kerja baru dengan ukuran 20.cm x 20cm seperti pada gambar dibawah, kemudian pada menu windows pilih/ceklis Timeline. fungsi dari timeline sendiri adalah untuk membuat beberapa frameme yang berfungsi menampilkan gambar secara berurutan dan seolah-olah gambar bisa bergerak dengan sendirinya.
  • Pilih atau masukkan beberapa gambar yang ingin dibuat, dan buat beberapa layer di timeline agar gambar dapat diputar sesuai urutan dan seolah olah dapat bergerak
  • Buat beberapa buah Frame Animasi dan beberapa  Layer Animasi sesuai kebutuhan. Langkah selanjutnya setting Indicates layer visibility (icon mata) pada setiap Frame Animasi. Maksudnya, jika Frame Animasi 1 aktif, maka Indicates layer visibility juga yang aktif harus Layer Animasi 1. Begitu selanjutnya Anda setting pada Layer animasi lainnya sesuaikan dengan posisi nomor Frame Animasi.
  • Setelah gambar sudah dimasukkan dan sudah sesuai dengan urutan kemudian atur kecepatan delay yang berda di bawah layer setiap timeline, atur kecepatanya missal 0,2. Semakin besar angkanya maka perpindahan gambar ke gambar selanjutnya akan semaki lambat 
  • Jika sudah selesai memasukkan gambar merapikanya, mengatur kecepatannya dan sudah terlihat tbergerak dengan rapi, kemudian ke menu File pilih save for web atau alt+shift+ ctrl+s kemudian klik ok atau simpan.
ini adalah screenshot saat pengerjaannya










Selasa, 26 Maret 2019

Manajemen Layanan Sistem Informasi


Service Management


ITSM (Information Technology Service Management) merupakan sebuah metode pengelolaan sistem teknologi informasi yang secara filosofis berpusat kepada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaannya. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi.

ITSM berfokus pada proses dan oleh sebab itu terkait serta memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses. Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok atau detail teknis suatu sistem, tetapi berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna TI.

ITSM pada umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi dan bukan pada pengembangan teknologinya. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukan menjadi fokusnya, tetapi sistem komputer yang dipakai oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak lah yang merupakan fokus perhatian. Banyak pula perusahaan non-teknologi seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan cukup signifikan, meskipun tidak berinteraksi langsung kepada konsumennya.

ITSM acap kali dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, meskipun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya layaknya manajemen portfolio TI dan RPL.



Framework / Kerangka Kerja ITSM

Kerangka kerja (bahasa Inggris: framework) adalah suatu struktur konseptual dasar yang digunakan untuk memecahkan atau menangani suatu masalah kompleks. Istilah ini sering digunakan antara lain dalam bidang perangkat lunak untuk menggambarkan suatu desain sistem perangkat lunak yang dapat digunakan kembali, serta dalam bidang manajemen untuk menggambarkan suatu konsep yang memungkinkan penanganan berbagai jenis atau entitas bisnis secara homogen.

Kerangka kerja yang dianggap bisa memberi contoh penerapan ITSM diantaranya:
·         Information Technology Infrastructure Library (ITIL)
·         Control Objectives for Information and Related Technology (COBIT)
·         Software Maintenance Maturity Model
·         PRM-IT IBM's Process Reference Model for IT
·         Application Services Library (ASL)
·         Business Information Services Library (BISL)
·         Microsoft Operations Framework (MOF)
·         eSourcing Capability Model for Service Providers (eSCM-SP) dan eSourcing Capability Model for Client Organizations (eSCM-CL) dari ITSqc for Sourcing Management.

Model referensi solusi ITSM mengintegrasikan lima domain untuk mendukung penyedia layanan internalnya :

IT Governance (Domain) = Cobit Process Framework
IT Service Management = ITIL Process Framework
IT Resources Management = Project Management Methods
IT Quality Management = Quality Improvement Methods
IT Security Management = Business Aligned Security Standards

Keuntungan utama ITSM adalah memberikan kriteria kualitas yang kuantitatif untuk layanan yang berfokus pada end-to-end customer. Hal ini merupakan dasar bagi manajemen infrastruktur TI yang dewasa.

ITSM memfokuskan diri pada 3 (tiga) tujuan utama, yaitu:
1.        Menyelaraskan layanan TI dengan kebutuhan  sekarang dan akan datang dari bisnis dan pelanggannya.
2.        Memperbaiki kualitas layanan-layanan TI. 
3.     Mengurangi biaya jangka panjang dari penge- lolaan layanan-layanan tersebut.   

ISO dan ITIL
ISO/IEC 20000 adalah standar internasional untuk proses ITSM. Jadi bisa dikatakan ISO merupakan kerangka atau bagian standarisasi dari ITSM. Standar ISO ini, didasari dan ditujukan untuk menggantikan BS (British Standards) 15000. ISO/IEC 20000 diperkenalkan pada bulan Desember tahun 2005 dan digunakan untuk menggambarkan pedoman best practice yang terdapat dalam kerangka kerja ITIL.

Information Techonology infrastructure Library (ITIL) merupakan dokumentasi best practice ITSM yang  komprehensif dan konsisten. ITIL merupakan kerangka kerja yang sangat luas yang  menggambarkan keseluruhan ITSM dalam beberapa modul. dibelakang pengembangan  ITIL adalah kesadaran bahwa organisasi pada umumnya, dan service provider pada khususnya,  sangat bergantung pada TI dalam memenuhi tujuan organisasi dan kebutuhan bisnis customer  mereka. Pertumbuhan ketergantungan ini menyebabkan peningkatan permintaan/ kebutuhan  akan service TI yang berkualitas tinggi.

Sebuah rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan serta operasi teknologi informasi. ITIL mendeskripsikan secara detail terhadap proses, prosedur, tugas dan ceklist untuk membangun integrasi antara TI dengan strategi organisasi, memberkan value dan mempertahankan level minimum kompetensi. Benang merahnya adalah ITIL merupakan panduan dalam melakukan perencanaan, desain, transisi, operasional dan peningkatan layanan TI secara berkesinambungan dalam perusahaan. Maka dari itu, ITIL seringkali menjadi acuan dalam pelaksanaan ITSM suatu organisasi atau perusahaan.

Jadi, perbedaan diantra ketiganya adalah, ITSM merupakan manajemen layanan TI, ISO merupakan badan atau organisasi standar internasional untuk proses ITSM sedangkan ITIL merupakan best practice atau pedoman atau acuan dalam pelaksanaan ITSM.


Kelebihan & kelemahan ITIL atau ITSM lain :
            ITIL (Information Techonology Infrastructure Library) merupakan salah satu kerangka kerja atau framework dalam penerapan ITSM (Information Technology Service Management). ITIL memberikan layanan untuk mengelola layanan TI. Dalam pengimplementasian ITSM dalam perusahaan, ITIL memiliki beberapa keuntungan atau kelebihan, yaitu:
1.    Pelayanan ITIL yang sudah terbukti dan digunakan secara global ITIL memberikan konsep umum dan istilah dalam serangkaian best practice terintegrasi yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam siklusnya secara berkelanjutan. Organisasi di seluruh dunia telah menunjukkan bahwa mereka dapat beradptasi  dan menyesuaikan ITIL sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.

2.    Peningkatan kepuasan dan hubungan pelanggan dengan perusahaan ITIL dirancang untuk membantu setiap orang untuk memusatkan perhatian mereka pada kebutuhan pelanggan dan pengalaman user daripada terlalu berfokus kepada masalah teknologi.

3.    Kualitas layanan yang lebih baik. Dengan mengadopsi konsep yang sudah terbukti, penyedia layanan dapat dengan mudah memberikan layanan secara konsesten denga tingkatan layanan yang sudah disepakati, efisien dan efektif. Tim support dapat memberikan layanan dengan cepat, mengurangi downtime dan gangguan.
4.    Optimalisasi penyediaan layanan di seluruh supply chain. ITIL menawarkan peluang yang signifikan untuk penyederhanaan dan stadarisasi di seluruh partner dagang. ITIL menyediakan proses dan model untuk membantu penyedia layanan untuk bekerja dengan bisnis mereka, pelanggan, user dan pemasok untuk membuat keputusan bisnis mengenai peluang investasi, optimalisasi baya, manajemen resiko, dan prioritas untuk perbaikan. Manfaat dari penerapan best practice dari ITIL adalah:
Berkurangnya biaya support sebesar 30%
Meningkatkan penanggulangan insiden dengan cepat sebesar 20%
Peningkatan nilai dari  portofolio layanan dengan pengurangan biaya dan resiko.
Keunggulan kompetitif melalui value creation dan agile change

5.    Dengan mengadopsi lifecycle layanan ITIL, organisasi atau perusahaan dapat berfokus pada pemberian nilai kepada pelanggan dengan cepat dapat menyesuaikan perubahan bisnis dan TI. Manfaatnya meliputi:
Pengurangan cycle time untuk proyek dengan perubahan sebesar 30% menjadi 50%
Meningkatnya tingkat keberhasilan terhadap perubahan
Pengurangan resiko dari perubahan tidak terduga

6.    Produktifitas yang lebih baik bagi perusahaan

7.    Peningkatan quality control

8.    Pemanfaatan skill dan pengalaman dari karyawan dengan lebih maksimal

9.    Pemanfaatan standar industri untuk penyediaan layanan TI berkualitas tinggi sesuai

10.  dengan implentasi perusahaan berskala kecil maupun berskala besar
Terlepas dari keuntungan dari pengimplementasian ITSM dengan menggunakan konsep atau framework ITIL, ITIL memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
1.    Konsep dari ITIL yang komprehensif dalam sifatnya dan penggunaan yang lus dapat menyebabkan biaya yang cukup besar.

2.    Versi 3 dari ITIL mencakup keseluruhan lifecycle sehingga tidak mudah dimengerti, dimana versi 2 dari ITIL hanya berfokus pada produksi dan support untuk proses sederhana sehingga lebih mudah untuk dimengerti.

3.    Buku-buku ITIL terlalu mahal sehingga tidak terjangkau bagi pengguna non-komersial.

4.    Implementasi dan credentialing dari ITIL membutuhkan pelatihan khususITIL mendapat kritikan dari beberapa profesional ICT mengenai sifatnya yang subjektif dan emotional degradation yang berkaitan dengan perubahan work practice

5.    ITIL bersifat holistic yang mencakup semua kerangka kerja untuk tatakelola TI

6.    ITIL mendapat kritikan dari beberapa profesional ICT mengenai sifatnya yang subjektif dan     emotional degradation yang berkaitan dengan perubahan work practice

7.    Biaya sertifikasi ITIL terlalu tinggi (Zahid, 2009)






ITSM mempengaruhi setiap bagian dari sebuah organisasi, dan diperlukan untuk mendukung tujuan bisnis, dan memiliki kesamaan dengan program-program ERP yang sudah sangat mendunia dimana keduanya membutuhkan integrasi serta konsistensi di dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
1.    Proses, menerapkan kebijakan dengan mengintegrasikan informasi, teknologi dan SDM dengan proses yang terotomatisasi.
2.    Informasi, menjadi lebih standard, terdistribusi dan mudah di akses.
3.    Teknologi, untuk mengintegrasikan dan mengotomatisasikan tugas dan proses-proses yang ada.
4.    Sumber daya manusia (people), menentukan peran dan kewajiban dengan jelas untuk menghasilkan keputusan.

Komponen (Core) dari ITIL meliputi :
1. Service Strategy
Service Strategy merupakan inti dari siklus hidup ITIL. Memberi panduan bagaimana merancang dan mengimplementasikan layanan TI sebagai bagian dari aset strategis perusahaan. Service Strategy mendefinisikan konsep utama dari ITIL, sebagai panduan dasar dalam perancangan keseluruhan siklus hidup ITIL. 
Service Strategy memberikan panduan dalam pengembangan Service Design, Service Transition, Service Operation dan Continual Service Improvement. Proses inti dari Service Strategy antara lain;
1.
 Strategy Management for IT Service,
2. Service Portfolio Management,
3. Financial Management for IT Service,
4. Demand Management,
5. Business Relationship Management.
2. Service Design
Service Design memberikan arahan untuk perancangan dan pengembangan layanan serta proses-proses manajemen layanan, mencakup prinsip dan metode untuk menerjemahkan tujuan strategis kedalam portfolio layanan dan aset layanan. Service Design dimulai dari pengaturan kebutuhan bisnis hingga selesainya pengembangan dari perancangan solusi layanan. Terdapat 5 (lima) aspek dalam Service Design, antara lain;
1.    Solusi layanan untuk layanan baru atau perubahan layanan,
2.    Sistem informasi manahemen dan tools,
3.    Teknologi dan arsitektur manajemen,
4.    Proses,
5.    Metode pengukuran dan matriks.

3. Service Transition
Service Transition fokus pada seluruh aspek layanan, memberikan arahan pengembangan dan perbaikan untuk transisi layanan baru atau perubahan layanan. Merupakan implementasi dan adaptasi dari Service Design. Service Transition merencanakan dan mengkordinasikan sumber daya (resource)sehingga menjamin kebutuhan dari Service Strategy yang dituliskan dalam Service Design untuk dirilis pada Service Operation Service Transition yang memberikan panduan kepada perusahaan untuk mengelola segala bentuk perubahan yang terjadi pada layanan dan proses manajemen layanan agar dapat mengontrol resiko dari perubahan.




4. Service Operation
Service Operation memberi panduan dalam implementasi dari manajemen operasi layanan. Service Operation menyampaikan layanan kepada pelanggaran dan mengatur aplikasi, teknologi dan infrastruktur yang mendukung penyampaian layanan. Merupakan tahap yang menyampaikan nilai layanan kepada bisnis secara langsung. Service Strategy mendefinisikan nilai yang akan disampaikan pada layanan, Service Design mendefinisikan bagaimana merancang layanan agar dapat menyampaikan suatu nilai, Service Transition mengubah rancangan menjadi layanan yang sebenarnya, Service Operation menjamin bahwa layanan dan nilai dari layanan dapat tersampaikan.

5. Continual Service Improvement
Continual Service Improvement berkaitan dengan perbaikan nilai kepada pelanggan melalui evaliasi yang berkelanjutan dan perbaikan dari kualitas layanan. Continual Service Improvement mengkombinasikan antara prinsip, praktis dan metode dari manajemen kualitas, manajemen perubahan, memperbaiki kapabilitas, memperbaiki setiap tahap dari siklus hidup ITIL, mulai dari layanan, proses, aktifitas dan teknologi yang berjalan.

ITIL Key Concept : Process dan Function

Lima komponen luas dari Siklus Hidup Layanan ITIL mencakup berbagai sub-kategori / aspek lainnya, termasuk Manajemen Permintaan, Manajemen Kapasitas, Manajemen Rilis, Manajemen Insiden, Manajemen Acara, dan sebagainya. Ini adalah aspek yang dimaksudkan untuk mencakup semua bidang ITSM (Manajemen Layanan TI).

Masing-masing sub-kategori / aspek dari lima komponen kerangka kerja ITIL dapat dilabeli sebagai 'Proses' atau sebagai 'Fungsi'.

Berikut adalah diagram yang menjelaskan dengan lebih baik sub-kategori / aspek dari lima komponen yang lebih luas, mengklasifikasikannya sebagai proses atau fungsi.
 

REFERENSI







https://www.simplilearn.com/itil-key-concepts-and-summary-article